Selain persoalan RAT, rapat mediasi turut menyoroti laporan pertanggungjawaban dan transparansi pengelolaan keuangan koperasi selama beberapa tahun terakhir.
Pagun menjelaskan laporan keuangan koperasi sebenarnya tersedia, namun proses penyusunan laporan pertanggungjawaban mengalami keterlambatan.
“Saya beberapa kali sudah menginstruksikan agar laporan segera diserahkan untuk saya cek, tetapi mungkin karena kesibukan jadi belum sempat diselesaikan,” katanya.
Ia juga menilai sempat terjadi perbedaan pemahaman antara permintaan audit dan laporan pertanggungjawaban di internal koperasi.
“Awalnya saya kira anggota meminta audit, ternyata yang diminta itu laporan pertanggungjawaban atau LPJ. Mungkin ada miskomunikasi,” ujarnya.
Terkait pembagian hasil usaha, Pagun mengatakan pembayaran kepada anggota selama ini masih dilakukan secara tunai.
“Selama ini pembayaran kepada petani sawit masih dilakukan secara tunai kepada anggota,” jelasnya.
Ke depan, koperasi disebut mulai mempertimbangkan penggunaan sistem pembayaran non tunai guna mengurangi risiko membawa uang tunai dalam jumlah besar.
“Ke depan ada rencana menggunakan mekanisme non tunai via rekening supaya tidak lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua baru Koperasi Wahana Mandiri Abadi, Julianto, memilih menekankan penyelesaian persoalan melalui jalur musyawarah internal anggota koperasi.
Menurut Julianto, pihaknya mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya.








