MikroTV.ID Sintang, Kalbar – Upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam terus diperkuat di wilayah Sintang. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Barat menggelar sosialisasi pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus mitigasi konflik satwa liar di Region Sintang, Rabu, 15 April 2026.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan yang berlangsung di ruang meeting Region Sintang ini diikuti unsur Muspika Kecamatan Ketungau Hilir dan Ketungau Tengah, para kepala desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, serta perwakilan perusahaan perkebunan, yakni PT CUP dan PT PML.

Perkuat Pemahaman Konservasi di Wilayah Perkebunan

Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya konservasi sumber daya alam, khususnya di wilayah yang bersinggungan langsung dengan aktivitas perkebunan.

Dalam pemaparannya, tim BKSDA menekankan bahwa keanekaragaman hayati merupakan aset penting yang harus dijaga secara berkelanjutan. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai kebijakan perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Materi yang disampaikan mencakup dasar-dasar konservasi, regulasi perlindungan satwa, hingga pentingnya menjaga habitat alami di tengah ekspansi aktivitas manusia.

“Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dan pihak perusahaan,” menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.

Mitigasi Konflik Satwa Jadi Fokus Utama

Selain aspek konservasi, sosialisasi juga menitikberatkan pada penanganan konflik antara manusia dan satwa liar yang kerap terjadi di sekitar kawasan perkebunan.

Peserta dibekali pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi yang aman dan tepat, mulai dari cara menghadapi satwa liar hingga upaya pencegahan konflik agar tidak menimbulkan kerugian bagi kedua pihak.

Melalui sesi diskusi dan tanya jawab, peserta juga aktif menggali solusi atas persoalan yang dihadapi di lapangan. Interaksi ini dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga ekosistem.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap jenis-jenis satwa yang dilindungi serta aturan yang berlaku. Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan habitat satwa liar juga mulai tumbuh.

Selain itu, sosialisasi ini memperkuat koordinasi antara BKSDA, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat dalam menangani konflik satwa secara terpadu.

Langkah ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam menciptakan harmoni antara aktivitas manusia dan kelestarian satwa liar di Kabupaten Sintang.***