Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan melalui peningkatan curah hujan buatan di wilayah rawan.
“Sinergi antarinstansi terus diperkuat, mulai dari pemantauan, prediksi, hingga pelaksanaan operasi di lapangan,” tegas Faisal.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor.
Pemerintah meminta seluruh daerah rawan karhutla memperkuat mitigasi, kesiapan personel, serta sistem komando terpadu.
“Koordinasi menjadi kunci. Seluruh komponen harus bergerak bersama untuk menekan karhutla hingga seminimal mungkin,” ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan sistem, Kepala BMKG juga meninjau sejumlah fasilitas operasional di Pontianak, termasuk stasiun meteorologi dan kawasan pelabuhan strategis.
Peninjauan ini bertujuan memastikan kesiapan layanan informasi cuaca dan sistem peringatan dini berjalan optimal.
BMKG menegaskan bahwa unit pelaksana teknis di daerah memegang peran vital sebagai garda terdepan dalam memberikan informasi cuaca akurat, terutama menghadapi ancaman karhutla, cuaca ekstrem, serta gangguan transportasi selama musim kemarau.
Dengan proyeksi iklim yang mulai mengarah ke fase kering, kesiapsiagaan dini dinilai menjadi langkah krusial untuk mencegah dampak karhutla yang lebih luas di Kalimantan Barat.***








