“Pesan saya adalah jadilah pelindung dan pelestari budaya tenun ikat Sintang, manik-manik, tarian, bahasa, dan nilai-nilai luhur Dayak. Jangan sampai punah di tangan generasi kita,” imbau Florensius Ronny.
Pemerintah daerah menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pelestarian budaya tersebut melalui program ekonomi kreatif dan berbagai festival kebudayaan.
P2D Sintang juga didorong untuk menjadi motor penggerak ekonomi keluarga dengan merangkul para pelaku UMKM, penenun, perajin, hingga petani perempuan di pelosok daerah.
“Bentuk kelompok, akses pelatihan, manfaatkan bantuan dari pemerintah. Perempuan berdaya, keluarga sejahtera, Sintang maju,” tegas Florensius Ronny.
Lebih lanjut, Florensius Ronny mengingatkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman suku bangsa di Sintang.
Namun, satu hal krusial yang ditegaskan oleh Wakil Bupati Sintang adalah peran ibu dalam membentengi keluarga dari ancaman darurat narkoba yang kini mengintai generasi muda.
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sintang tahun 2025, angka rehabilitasi pengguna narkoba didominasi oleh usia produktif.
“Data dari BNN Sintang tahun 2025, ada 30 persen pengguna yang direhabilitasi adalah usia 15-25 tahun yang merupakan anak-anak kita, generasi penerus kita,” ungkap Florensius Ronny dengan nada prihatin.
Menyikapi kondisi tersebut, Florensius Ronny meminta seluruh pengurus P2D Sintang menjadikan rumah tangga masing-masing sebagai benteng pertahanan utama.
Para ibu diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak-anak dan tidak memberikan celah sedikit pun bagi penyalahgunaan narkotika.
“Ibu-ibu pengurus P2D Sintang, tolong jaga anak-anak kita. Kenali perubahan perilaku anak, jangan kasih ruang untuk narkoba masuk ke meja makan kita. P2D harus berani bicara,” tutur Florensius Ronny.
P2D Sintang juga diminta gencar melakukan penyuluhan bahaya narkoba hingga ke tingkat dusun dengan menggandeng pihak kepolisian, BNN, dan Dewan Adat Dayak (DAD).
Selain masalah narkoba, pengawasan terhadap dampak negatif teknologi dan pergaulan bebas pada remaja putri juga harus menjadi perhatian serius organisasi ini.
Wakil Bupati Sintang berharap P2D Sintang mampu hadir sebagai ruang konseling yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang generasi muda perempuan di Sintang.***








