Menurutnya, seluruh proses seleksi telah berjalan sesuai prosedur dan tidak menyalahi aturan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Saya menegaskan bahwa tidak ada satu SOP pun yang kami langgar sampai saat ini. Semua prosedur kita lewati,” tegasnya.

GH Bala juga mengibaratkan para pejabat yang dilantik bukan seperti baut dan mur yang diproduksi dari pabrik yang sama.

Menurutnya, setiap individu memiliki karakter berbeda yang harus mampu menyesuaikan diri dalam sistem pemerintahan.

“Kita ini bukan baut dan mur yang dibikin oleh pabrik yang sama, tetapi kitalah yang mencocokkan kita,” ujarnya.

Di tengah suasana pelantikan, GH Bala turut menyinggung peserta open bidding yang belum berhasil menduduki jabatan.

Menurutnya, situasi tersebut bukan bentuk pilih kasih, melainkan konsekuensi dari sistem birokrasi yang semakin mengerucut di level atas.

“Tentu ada sebagian yang belum bisa berdiri di sini. Itu bukan karena kita jahat atau pilih kasih,” katanya.

Dalam pernyataan yang cukup emosional, GH Bala bahkan mengaku menjadi pihak yang paling tertekan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

“Siapa yang paling merasa berdosa? Saya juga merasa berdosa. Siapa yang paling pusing? Saya juga salah satu yang paling pusing,” ucapnya.

Ia kemudian melontarkan kalimat yang langsung menjadi perhatian banyak tamu undangan.

“Kalau memang harus ada yang disalahkan, salahkan saja bupati,” tegas GH Bala.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa proses open bidding di lingkungan birokrasi daerah tidak selalu berjalan dalam ruang hening tanpa tekanan.

Halaman:
1 2 3