Pesawat tempur J-10 bekas akan dikirim relatif cepat dengan mengambil dari inventaris Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat, memberikan peningkatan kemampuan segera. J-10 kemungkinan akan dimodifikasi untuk memenuhi persyaratan ekspor sebelum diserahkan kepada Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pilihan Indonesia terhadap J-10 memperoleh signifikansi tambahan mengingat pengalaman operasionalnya baru-baru ini dalam konflik antara India dan Pakistan, di mana pesawat tersebut telah menunjukkan kehebatannya dengan menembak jatuh pesawat tempur Rafale Angkatan Udara India menggunakan rudal udara-ke-udara jarak jauh.

Keputusan Indonesia untuk mengakuisisi J-10 di samping komitmen Rafale yang sudah ada akan menjadikannya negara pertama di dunia yang mengoperasikan kedua jenis pesawat tempur tersebut secara bersamaan, memberikan wawasan operasional yang unik tentang kinerja komparatif sistem tempur udara China dan Barat.

Indonesia secara historis mempertahankan pendekatan pengadaan pertahanan yang terdiversifikasi, mengoperasikan pesawat tempur dari berbagai pemasok termasuk F-16 Amerika, Su-27/30 Rusia, dan British Aerospace Hawks.

Namun, situasi saat ini akan menciptakan tingkat diversitas pemasok yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan program aktif dari produsen Rusia, Perancis, dan China secara bersamaan.

Potensi penambahan pesawat tempur J-10 dan Su-35 ke komitmen Rafale yang sudah ada akan menciptakan tantangan anggaran dan operasional yang signifikan.

Dengan 24 Rafale yang sudah berkomitmen, penambahan pesawat tempur China dan Rusia akan merepresentasikan ekspansi besar-besaran program modernisasi pesawat tempur Indonesia.

Dengan 66 pesawat tempur canard-delta, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara akan muncul sebagai kekuatan yang tangguh di kawasan ini.

Implikasi logistik juga sangat kompleks. Mengoperasikan Su-35 Rusia bersama Rafale Perancis dan J-10 China akan memerlukan jalur pelatihan, fasilitas pemeliharaan, inventaris suku cadang, dan sistem senjata yang terpisah.

Pendekatan multi-pemasok ini, meskipun memberikan otonomi strategis, akan secara signifikan meningkatkan kompleksitas operasional dan biaya.

Keputusan untuk melanjutkan pengadaan J-10 dan Su-35 akan menandakan kesediaan Indonesia untuk menantang tekanan sanksi AS dalam mengejar tujuan modernisasi pertahanannya, bahkan sambil mempertahankan komitmen substansial kepada pemasok Barat.

Langkah ini berpotensi mempersulit hubungan dengan mitra Amerika dan Perancis, sekaligus memperkuat hubungan dengan China dan Rusia.

Halaman:
1 2 3 4 5