Kapuas7.Net, Gunungkidul, 22 September 2025 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengadakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari petani hortikultura, penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT), kelompok wanita tani, hingga petani milenial mengikuti pelatihan di Pendopo Kalurahan Kedungpoh dengan penuh antusias.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata, terutama bagi sektor pertanian yang sangat rentan.

“Sepuluh tahun terakhir merupakan periode terpanas dalam sejarah. Tahun 2024 bahkan mencatat anomali suhu global 1,55 °C di atas era pra-industri. Kondisi ini menuntut langkah adaptasi segera, khususnya di bidang pertanian,” ujarnya.

Dwikorita menjelaskan bahwa SLI Tematik bukan hanya sekadar program pelatihan, tetapi gerakan nasional untuk mencetak petani cerdas iklim.

Menurutnya, literasi iklim membantu petani membaca cuaca, menyesuaikan pola tanam, dan mengurangi risiko gagal panen.

“Dengan memahami iklim, petani bisa berkontribusi pada ketahanan pangan dan mendukung program Asta Cita Presiden,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, BMKG juga menyampaikan prakiraan musim hujan di DIY yang diperkirakan masuk pada dasarian ketiga Oktober 2025 dengan sifat hujan normal.

Informasi ini diharapkan membantu petani menyesuaikan pola tanam lebih tepat waktu.

Ketua Panitia sekaligus Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menyebutkan bahwa peserta didominasi petani cabai dan bawang merah di Kecamatan Nglipar.

Materi yang diberikan meliputi pemanfaatan data iklim untuk budidaya hortikultura, pengenalan unsur iklim dan alat ukur, serta pemahaman informasi cuaca dari BMKG.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Halaman:

Halaman:
1 2