Wakil Bupati, Joko Parwoto, menegaskan bahwa pertanian adalah sektor vital perekonomian daerah, namun sangat rawan terhadap perubahan iklim.
βMelalui SLI, petani dibekali kemampuan adaptasi agar tantangan iklim bisa diubah menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan,β katanya.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) turut mendukung sejak 2019 dengan mengaitkan program SLI pada pengendalian inflasi pangan.
Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menegaskan bahwa produksi pangan sangat dipengaruhi iklim.
Oleh karena itu, penguatan literasi iklim penting untuk menjaga stabilitas harga.
BI bahkan mengembangkan klaster cabai dan bawang merah bersama kelompok tani di Gunungkidul guna menjaga pasokan tetap stabil.
Dengan adanya SLI Tematik Gunungkidul, BMKG bersama pemangku kepentingan terus mendorong literasi iklim yang aplikatif bagi petani.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mencetak petani tangguh, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta menghadapi tantangan perubahan iklim secara berkelanjutan.***








