Beliau melanjutkan dengan menyoroti situasi kemanusiaan “sangat serius” di Jalur Gaza, memperingatkan bahwa komitmen mendesak diperlukan dari pihak yang berkonflik dan komunitas internasional.
Rasa Syukur atas Langkah Perdamaian di Armenia dan Azerbaijan
Pada saat yang sama, Paus Fransiskus menyatakan rasa terima kasihnya atas langkah-langkah yang diambil menuju perdamaian di Kaukasus Selatan, di mana Armenia dan Azerbaijan bergerak menuju perjanjian damai yang diselesaikan.
“Semoga ini menjadi tanda harapan,” doanya, “bahwa konflik lain juga dapat menemukan jalan menuju resolusi melalui dialog dan niat baik.”
Injil Kesabaran dan Doa untuk Perdamaian Dunia
Injil hari itu menunjuk pada gambaran pohon ara yang mandul, yang diselamatkan dari penebangan dengan harapan masih dapat berbuah.
Ini, kata Paus, adalah cara Tuhan memandang umat manusia: dengan belas kasihan, dengan ketekunan, dan dengan cinta yang tidak pernah lelah. Dalam terang semua penderitaan, tetapi juga semua harapan, “Ini adalah kesabaran yang sama yang kita dipanggil untuk kembangkan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama di saat-saat kesulitan dan ketidakpastian,” kata Paus.
Sebelum mengakhiri, Bapa Suci sekali lagi menaruh kepercayaannya pada perantaraan Perawan Maria, memintanya untuk menemani Gereja dan dunia di jalan perdamaian.
Beliau mengajak umat beriman untuk bergabung dengannya dalam berdoa untuk perdamaian, “terutama di Ukraina yang tersiksa, Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, Sudan, dan Republik Demokratik Kongo.”
“Berdoa untuk perdamaian di Ukraina yang tersiksa, Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, Sudan, dan Republik Demokratik Kongo.”
Rasa Syukur dan Dukungan Umat
Saat bersiap untuk masa pemulihannya, Paus Fransiskus tidak melupakan mereka yang telah mendukungnya melalui doa-doa mereka.
“Saya merasakan kedekatan Anda,” katanya hangat, berterima kasih kepada umat beriman atas dukungan mereka dan meyakinkan mereka tentang doa-doanya sebagai balasan.***








